Masyarakat Nikmati Jalan Kumbangan Kerbau

Masyarakat Nikmati Jalan Kumbangan Kerbau

Bandar Pulau -

Jalan yang menghubungkan Kecamatan Bandar Pasir Mandoge Simpang Membot Menuju Desa Aek Nagali Kecamatan Bandar Pulau Kabupaten Asahan, Sumatera Utara(Sumut). Maupun yang sering disebut Jalan Ringroad (lingkar), Sumut  saat ini kondisinya sungguh sangat memprihatinkan, keadaanya mirip bagaikan kubangan kerbau, masyarakat yang akan ke Bandar Pulau sebagai Ibu kota Kecamatan itu susah dilintasi segala jenis kenderaan 

Pantauan awak media ini pada, Minggu  (11/1/2015) persisnya di tanjakan perbatasan Desa Nagali Bandar Pulau dengan Kecamatan Bandar Pasir Mandoge puluhan kenderaan antrian panjang akibat jalan ini kelihatan sudah kopak kapik dan  banyak terdapat lubang besar di tengah jalan,jalan berlumpur, serta becek(Badan jalan penuh genangan air.red).   Para  pengguna jalan mengutuk keras terhadap kinerja Pemerintah Kabupaten(Pemkab) Asahan dibawah naungan Drs. H. Taufan Gama Simatupang, MAP yang dalam janji politiknya 2010 memperhatikan Jalan Ringoad, keadaan ini terkesan seperti di anak tirikan karena sudah puluhan tahun jalar ini belum juga ada perhatian Pemkab Asahan.
 
Padahal jalan tersebut sebagai urat nadi bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat, dari berbagai kalangan yang masyarakat yang tinggal di Desa Nagali mengakui bahwa pembangunan infrastruktur jalan untuk di tahun 2009 lalu sangat berkurang.
 
Masyarakat mengaku sudah bosan jalan lewat Desa mereka yang rusak parah. "Setiap hari kita harus melewati jalur tiap itu pula kita terus mengelus dada, karena jarak tempuh 32 KM lebih.” Kata Faisal
Salah seorang Tokoh Masyarakat Bandar Pulau Barus Sitorus, Sos warga mengatakan, pada tahunn 2006, sebagai tindak lanjut jembatan 2003-2005, Pemkab Anggarkan Perkerasan dengan Base couse kelas C, simpang membot Aek Tarum 8 km, at-Buntu Maraja 2 KM plus Jembatan, Simundul - Sabungan 17 KM. At-buntu Maraja,diduga pembangunan ini  direkayasa masyarakat / Kades dengan rekanan, sehingga jadi  pengerasan "batu padas". Di simundul, diklaim Dishutbun sebagai areal Register. “ Tahun 2006 tindak lanjut jembatan 2003-2005 anggaran perkerasan dengan base couse kelas C simpang Membot Aek Tarum 8 KM, at-Buntu Maraja 2 KM plus Jembatan, Simundul - Sabungan 17 KM. At-buntu Maraja,diduga pembangunan ini  direkayasa masyarakat / Kades dengan rekanan, sehingga jadi  pengerasan batu padas. Di simundul, diklaim Dishutbun sebagai areal Register.” Kata Barus Sitorus. Lebih Lanjut di Katakan Barus, “Saya tidak memihak yang mana, antara pengusaha dan Pemkab ,Kasus jalan Desa Aek Nagali Bandar Pulau, justru terlalu banyak melibatkan perusahaan - perusahaan c/q PT. Bridgestone Drive Aek Tarum. Sikit-sikit Bull Dozer, pengerasan 2006, mentah balek. Harusnya CSR itu, jangan untuk jalan umum (mereka tak kompeten itu), tapi untuk bantu sosial ekonomi masyarakat sekitar. Dan pembangunan harus hadir di tengah masyarakat dan permasalahnnya ada di tangan pemerintah.” Papar Barus Sitorus
 
Hal senada di katakan “Najirin Marpaung, apalagi musim hujan seperti saat ini sudah tentu genangan air pada lubang di tengah jalan. Untuk itulah kita berharap kepada Pemkab Asahan untuk dapat memperhatikan daerah ini, agar transportasi menjadi lancar," harapnya.

Ditempat terpisah, ketika wartawan media ini  mengkonfirmasi Camat Bandar Pulau, Aspihan Daulay mengatakan “Saat ini sedang kita bahas di Balai Desa Aek Nag

Berikan Komentar