Ketua Umum IMM Luncurkan Buku Ironi Negara Kepulauan

Ketua Umum IMM Luncurkan Buku Ironi Negara Kepulauan

Jakarta - Mediapelopor.com

Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Beni Pramula meluncurkan sebuah buku berjudul "Ironi Negara Kepulauan". Buku setebal 233 halaman ini menjabarkan mengenai negara Indonesia yang terbentang luas dari Sabang sampai Merauke.

Buku Ironi Negeri kepulauan mengulas dengan komprehensif, realitas paradoks yang menjadi substansi masalah bangsa saat ini. Negara kepulaan dengan kekayaan melimpah, namun ironisnya, rakyat masih susah. Beras harus impor, sumber daya alam dikuasai oleh asing, dikelolah dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran pemilik modal. Seperti yang dipaparkan penulis pada halaman satu bagian dua, “Kekayaan Dalam Cengkraman Asing”. Data-data akurat yang disampaikan penulis, meyakinkan para intelektual bahwa buku ini layak dijadikan referensi untuk mengungah kesadaran.

 

RESENSI BUKU IRONI NEGARA KEPULAUAN

Judul Buku : Ironi Negara Kepulauan

Penulis : Beni Pramula

Penerbit : Penerbit PT. ELEX MEDIA KOMPUTINDO Group Kompas Gramedia. Gedung KOMPAS GRAMEDIA. Jl. Palmerah Barat 29 – 37. Jakarta Pusat, 10270. Telp. 021 - 536 50 110 / 021 -

Tebal Halaman : 233

ISSBN : 9786020267500

Mulai 29 juni tersedia di Toko Buku Gramedia Seluruh Indonesia.

Seluruh royalti dari buku ini akan disumbangkan untuk pemberdayaan anak2 yatim-piatu.

 

Negara Indonesia terbentang luas dari sabang sampai merauke. Dengan garis pantai terpanjang di dunia, hutan terbesar yang sering disebut sebagai paru-paru dunia, dan kekayaan alam berlimpah, adalah satu dari sebagian ciri khas Negara kepulauan terbesar di dunia. Yaitu Indonesia. paradise, begitu kata orang eropa, dan jannah sebutan dari orang dari timur tengah.

Namun, melimpahnya kekayaan alam belum menjadi modal bagi lompatan quantum perubahan bangsa. Bangsa terbesar ke lima di dunia, yang harusnya mampu sejajar dengan Negara-negara besar. Layaknya Eropa, Jepang, Cina, bahkan Amerika Sekalipun.

Bobroknya system pemerintahan, demokrasi setengah matang, dan pemimpin produk pencitraan, hambatan bagi kemajuan bangsa. Korupsi masih merjalela, hukum tebang pilih, kiblat ekonomi bangsa masih tunduk kepada cengkraman asing, harus diterima rakyat Indonesia yang semakin hari semakin kesulitan, semakin jauh dari harapan kesejahteraan.

Semakin jauh dari harapan kemajuan. Belum menjadi tuan di negeri sendiri. Tidak sekedar menyajikan ironi, atau masalah-masalah bangsa saat ini seperti pada halaman satu, “Negeri Salah Urus”, di halaman dua buku ini juga memberikan pencerahan dan harapan, bagaimana melawan ironi dan menegakkan kedaulatan rakyat.

Buku yang terdiri dari 11 bagian, dan dipisah menjadi dua halaman ini, ditutup dengan mengugah kesadaran kaum muda, sebagai moral force, untuk membangun kesadaran kolektif, atau bahasa penulis, yaitu revolusi kesadaran kolektif dari kaum muda yang kemudian diterjemahkan sampai kepada seluruh masyarakat.

Penulis menempatkan kaum muda diposisi strategis sebagai aktor perubahan. Dengan cita-cita terwujudnya perubahan mendasar kearah yang lebih baik untuk indonesia berkemajuan. Latar belakang penulis sebagai aktivis mahasiswa dan Presiden Pemuda Asia Afrika, yang tak pernah jauh dari dinamika kebangsaan dan kondisi geopolitik global, memberikan nilai plus dari buku ini. Buku ini sangat relevan dalam konteks kekinian. Karena isu-isu yang diangkat masih sangat hangat dibicarakan oleh kaum muda. Ditambah dengan gaya penulisan yang tak hanya menggoda nalar kritis pembaca, namun juga ‘provokatif’ sehingga mengugah dan membangkitkan kesadaran pembaca. Buku ini layak dibaca bagi para intelektual, aktivis mahasiswa, aktivis pergerakan, akademisi, dan siapapun yang menginginkan perubahan mendasar bagi Negara kepulauan terbesar di dunia, Bangsa Indonesia.

TESTIMONI TOKOH MUDA INDONESIA

Setiap halaman pada buku ini menyajikan pukulan telak pada wajah kekuasaan yang alpa pada tugasnya. Indonesia adalah bangsa yang lahir dari nurani pejuang. Sayangnya dalam keseharian kita, nurani kejuangan para founding fathers semakin hilang gemanya, apalagi jika tidak direproduksi secara terus menerus. Saudara Beni Pramula, menegaskan gugatannya pada kenyataan, bahwa naas yg menimpa bangsa ini bukan karena kutukan sejarah, namun terletak pada sesat nalar dan salah kelola pemerintahan. (Arief Rosyid Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam PB HMI).

“Tidak sekedar mengupas sisi yang terlupakan tentang Indonesia dalam hingar bingar politik, buku ini ditulis dengan baik, dan saya melihatnya sebagai suatu pergulatan intelektual yg mencoba melihat Indonesia secara realistis. Faktanya, kita memang negara kepulauan dan saya kira tidak cukup banyak intelektual muda yang mau mengangkat tema seperti ini sebagai tulisan”. Lidya Natalia Sartono ( Ketua Presidium Pusat Pergerakan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia PMKRI )

“Buku "Ironi Negeri Kepulauan". Menggambarkan kondisi Indonesia dari berbagai aspek kehidupan. Tidak hanya mengkritisi kebijakan yang tidak mampu mengelola potensi sumber daya alam untuk mewujudkan kesejatraan bersama namun penulis juga memberi solusi atas persoalan Bangsa. Sehingga wajib dibaca oleh semua kalangan dan buku ini menjadi menarik karena Beni (penulis) mengemas dengan tutur kata yang santun dan sederhana walau sedikit tajam serta berani menukik tanpa basa-basi. Hal ini justru menjadi kekhasan karakter dari buku yang ditulis oleh generasi muda yang matang dengan segudang prestasi khususnya dibidang organisasi. Semoga buku ini dapat dijadikan salah satu referensi dalam memahami dan mengembangkan potensi bangsa untuk menjadi negara maju yang membawa kita menjadi Tuan di Negeri sendiri”. Eka Saputra ( Presidium Pimpinan Pusat Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia KMHDI ).

Anak muda itu harus paham permasalahan kebangsaan kita. Sehingga kita tidak gamang dengan agenda-agenda prioritas nanti, ketika estafet kepemimpinan telah diserahkan kepada kita. Buku ini memberikan informasi yang bisa memperkaya kepahaman kita. Bacalah! Karman BM / Ketua Umum PP Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) 2013-2017 / Co-Founder Asian African Youth Government.

"Buku ini berisi tentang keresahan nurani seorang anak bangsa atas realitas bangsanya,dalam buku ini kita akan menemukan banyak gugatan terhadap kondisi bangsa ini.gugatan-gugatan yang di dasari oleh rasa cinta terhadap bangsa dan negara.oleh karena itu gugatan-gugatan itu di sertai dengan tawaran solusi yang menarik" Andryan (Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia PB KAMMI)‎

"Catatan panjang tum Ben -sapaan akrab kepenulis, membawa sentakan bagi kesadaran kolektif sebagai seorang anak bangsa. Keutuhan pemahaman kekayaan, dan analisis persoalan makro yang disajikan, mesti menjadi catatan yang harus dibaca. Dengan gaya tulisan yang diserangkaikan dengan ulasan karya sastra, membuat teks-teks kegelisan ini menjadi semakin hidup. Referensi yang sangat baik dari seorang anak muda. Selamat membaca". Ayub Manuel Pongrekun ( Pengurus Besar Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia PB GMKI)

“Buku ini wajib dibaca bagi segenap insan yang mengaku cinta Bangsa sendiri. Hasil olah batin dan olah pemikiran akan fakta negeri yang gemah ripah loh jinawi namun berbanding terbalik dengan kondisi masyarakatnya. Memunculkan kesadaran cendekiawan muda untuk memperjuangkan kehidupan bangsa yang sepatutnya, melalui sumbangsih pemikiran yang solutif. Buku ini sebagai bentuk kesadaran anak bangsa untuk melibatkan diri berbagai persoalan kehidupan dengan gagasan berani dan segar khas anak muda”.‎‎ Suparjo ( Ketua Umum Presidium Pusat Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia PP HIKMAHBUDHI).  (int/SY)

 

Berikan Komentar